Minggu, 30 Maret 2014

Kisah Raja Thalut







Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih, bahwasanya ketika Nabi Daud as dapat membunuh Jalut, dan Thalut kembali pulang bersama dengan kaum Bani Israil dengan membawa kemenangan, Thalut pun kemudian menikahkan putrinya dengan Nabi Daud, dan juga menyerahkan separuh kerajaannya kepada beliau.

Syahdan berkumpullah kaum Bani Israil dan berkata, “Kita turunkan saja Thalut dari kursi kerajaan dan kita angkat Daud sebagai penggantinya, karena Daud adalah keturunan dari Yahudza dan dialah yang lebih berhak menjadi raja.”

Ketika Thalut menyadari hal itu dan mengkhawatirkan hilangnya kekuasaannya, ia pun berniat melakukan tipu muslihat dan membunuh Daud. Sebagian menterinya menyampaikan pendapatnya, “Tuan tidak mungkin dapat membunuh Daud, kecuali jika Tuan dibantu oleh putri Tuan sendiri.”

Mendengar saran dari sebagian menterinya ini, Thalut kemudian datang kepada putrinya seraya berkata, “Anakku, aku mempunyai suatu maksud dan aku berharap kamu bersedia membantu!”
Sang putri bertanya, “Keperluan apakah itu?”

Thalut menjawab, “Aku berencana membunuh Daud, karena dia telah memecah-belah rakyat.”
Sang putri bertanya kembali, “Ayah, Daud adalah orang yang kuat dan keras. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatan ayah jika ternyata ayah tidak berhasil membunuhnya, bahkan mungkin dialah yang akan mengalahkan dan membunuh ayah. Jika terjadi demikian, berarti ayah akan menghadap Allah sebagai orang yang bunuh diri dan sekaligus menghalalkan darah Daud. Sungguh mengherankan maksud demikian muncul dari ayah yang saya kenal lapang dada dan arif bijaksana.
Bagaimana mungkin saya menyetuji gagasan picik dan tipu muslihat yang lemah, yang hendak ayah jalankan itu terhadap Daud. Sedangkan ayah sendiri tahu, bahwa sesungguhnya Daud adalah salah seorang penduduk bumi yang paling teguh jiwanya dan paling berani mati?”

Thalut kemudian menjawab, “Aku tidak akan mendengarkan perkataan seorang wanita yang tergila-gila kepada suaminya dan cintanya kepada suaminya telah menghalanginya untuk menerima dan setia kepada ayahnya sendiri. Ketahuilah bahwa aku tidak mengajakmu untuk membantu rencana yang sudah aku sampaikan kecuali aku sudah bertekad memutuskan hubungan dengannya sebagai menantu. Tinggal pilih: aku membunuhmu atau kau akan membunuhnya.”

Sang putri berkata, “Berilah kesempatan kepada saya sampai saya mendapat kesempatan, dan saya akan segera menghubungi ayah!”

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sang putri kemudian berlalu dari hadapan ayahnya seraya mengambil sebuah kantung air yang dipenuhi arak, dan diberinya wewangian minyak misik, anbar dan wewangian lainnya.

Kantung berisi arak tersebut diletakkannya agak miring di tempat tidur Daud dan kemudian ditutupi dengan selimutnya (agar Thalut menyangka bahwa yang tidur itu adalah Daud). Setelah segala sesuatunya beres, sang putri lalu memberitahu kepada suaminya Daud, tentang tipu muslihat yang dirancangnya itu dan meminta Daud agar masuk ke kamar lainnya.

Kemudian sang putri pun menghubungi ayahnya seraya berkata, “Silahkan ayah pergi menemui Daud bila hendak membunuhnya sekarang!”

Thalut pun berangkat menuju ke rumah Nabi Daud as dengan membawa pedang. Sesampainya di rumah beliau, putrinya berkata, “Daud ada di sana, sekarang tinggallah urusan ayah dengannya.”

Thalut meletakkan pedang tepat di (arah yang dikiranya) ulu hati menantinya dan kemudian menekannya hingga menembusnya. Seketika itu tumpahlah arak (dari kanrung air yang disamarkan tubuh Daud) dan dari arak itu Thalut dapat mencium aroma minyak misik dan wewangian yang lain. Thalut pun berkata, “Alangkah wangi aromamu dalam keadaan mati, Daud. Semasa hidup engkau lebih wangi lagi. Engkau suci dan bersih.”

Thalut pun menyesali perbuatannya dan dia menangis seraya mengayunkan pedang ke tubuhnya untuk menebus kesalahannya (hendak bunuh diri). Melihat kejadian itu putrinya segera memeluknya seraya berkata, “Wahai ayah, apa yang hendak ayah lakukan? Bukankah ayah telah berhasil mengalahkan dan membunuh musuh ayah? Ayah telah diberi kebebasan oleh Allah dan sekarang kerajaan ayah seutuhnya berada dalam genggaman ayah!”

Thalut berkata, “Wahai putriku, kamu telah tahu bahwa dengki dan iri telah mendorongku untuk membunuh Daud, dan kini aku menjadi penduduk neraka! Sesungguhnya Bani Israil tidak akan rela dengan hal itu. Karenanya biarlah sekarang kuhabisi diriku sendiri.”

Sang putri kemudian berkata,”Wahai ayahandaku, apakah ayah merasa bahagia andaikata ayah tidak benar-benar membunuhnya?”
Thalut menjawab, “Tentu.”

Mendengar jawaban sang ayah, seketika putrinya pun mengeluarkan Daud dari dalam kamar dan berkata, “Wahai ayah, sesungguhnya ayah tidaklah membunuh Daud. Lihatlah, bukanlah dia Daud?”
Thalut kemudian menyesali perbuatannya.

Dan diriwayatkan dari Makhul; para ahli kitab beranggapan bahwa Thalut telah memohon ampun kepada Allah, dan mengharapkan agar dapat terlepas dari dosanya. Dia mendatangi wanita tua dari kalangan Bani Israil yang menguasai suatu ‘asma bertuah’ yang apabila digunakan untuk berdoa kepada Allah, doanya akan dikabulkan. Thalut berkata kepada orang tua itu, “Aku telah melakukan suatu kesalahan, yang tidak ada seorang pun dapat memberitahu bagaimana menebusnya, kecuali Ilyasa’. Sudikah kiranya Anda menemaniku ke makamnya dan memohonkan kepada Allah SWT agar Dia berkenan membangkitkan dari kuburnya, sehingga aku dapat bertanya kepadanya, bagaimana aku menebus kesalahanku ini?”

Orang tua itu menjawab, “Baiklah, aku bersedia.”
Keduanya berangkat bersama menuju ke makam Ilyasa’
Orang tua itu lalu menjalankan shalat dua raka’at dan berdoa kepada Allah agar memperkenankan Ilyasa’ menemui mereka berdua.
Akhirnya dikabulkan-Nya doanya dan keluarlah Ilyasa’ dari dalam kubur. Ilyasa’ kemudian berkata, “Wahai Thalut, apa kesalahanmu sehingga engkau keluarkan aku dari tempat pembaringanu sekarang ini?”

Thalut menjawab, “Wahai Nabi Allah, sungguh rumit permasalahanku ini, sehingga untuk memecahkannya aku harus meminta bantuanmu.”

Ilyasa’ berkata, “Tebusan atas kesalahanmu itu adalah, kamu harus melawan dirimu sendiri beserta semua keluargamu hingga tiada tersisa seorang pun.”

Setelah berkata demikian, Ilyasa’ kembali ke tempat pembaringannya semula, dan Thalut pun mengerjakan apa yang telah disarankan oleh Ilyasa’, sehingga dia dan seluruh keluarganya berjuang sampai terbunuh semua.

Kisah Raja Kan’an







Diriwayatkan dari Ibnu Sam’an dari sebagian pakar, bahwa yang dimaksudkan dengan Dzulkifli disini tidak lain adalah Ilyasa’ bin Khatub yang hidup semasa Ilyas, bukan Ilyasa’ sebagaimana disebutkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an. Ilyasa’ atau Dzulkifli ini adalah orang yang hidup sebelum Nabi Daud as.

Caritanya bermula dari sebuah wilayah kerajaan dengan rajanya yang otoriter terhadap rakyatnya, dialah Kan’an. Pada zamannya dia tidak mampu mempertahankan dirinya karena kezaliman dan kelacurannya.

Di wilayah kerajaan Kan’an itu hiduplah seorang yang tekun menyembah Allah secara rahasia dan dia tidak pernah menampakkan imannya. Dia adalah Dzulkifli.

Suatu hari seseorang melapor kepada sang raja. “Wahai baginda Raja, sesungguhnya di dalam wilayah kekuasaan tuan ini ada seorang laki-laki yang menentang aturan tuan dengan mengajak orang lain untuk tidak menyembah baginda Raja.” Mendengar laporan tersebut, maka diutuslah oleh raja seorang untuk menangkapnya, bahkan sang raja sendiri yang hendak membunuhnya. Tidak lama kemudian Dzulkifli pun ditangkap dan dihadapkan kepada sang raja.
“Benarkan yang aku dengar, bahwa engkau menyembah Tuhan selain aku?” tanya sang Raja kepada Dzulkifli.

“Dengan dulu penjelasan hamba, pahami dan janganlah tuan terburu naik darah, karena sesungguhnya kemarahan itu akan menghalangi pada suatu kebenaran, juga menjerumuskan kepada kejahatan. Bagi seorang penguasa seperti Anda, sebenarnya tidak perlu marah, sebab bagaimanapun Anda berhak dan mampu melakukan apa saja yang Anda kehendaki,” jawab Dzulkifli.

“Jelaskanlah!” perintah sang raja.

Dzulkifli mulai membuka pembicaraannya dengan menyebut Asma Allah dan membaca hamdalah yang dilanjutkan dengan perkataannya, “Adakah tuan ini yakin, bahwa tuan adalah tuhan, menjadi tuhan bagi semua rakyat tuan ataupun bagi semua makhluk? Jika benar demikian, tuan adalah tuhan bagi semua rakyat tuan sendiri. Karenanya, perlu tuan ketahui, bahwa sesungguhnya tuan mempunyai sekutu terhadap sesuatu yang tidak tuan miliki. Akan tetapi, jika tuan adalah tuhan bagi semua makhluk, sekarang siapa sebenarnya Tuhan tuan?”

“Bedebah! Siapa Tuhanku?” tanya sang raja.

“Tuhan tuan adalah juga Tuhan langit dan bumi, Dia-lah yang telah menciptakan keduanya, juga Pencipta matahari, bulan dan bintang gemintang. Oleh karena itu, takutlah tuan kepada Allah dan juga pada siksa-Nya! Jika tuan mau menyembah dan mengesakan-Nya, hamba yakin bahwa tuan akan mendapatkan pahala dan kekal di sisi-Nya,” jawab Dzulkifli.

“Tolong ceritakan kepadaku tentang orang yang menyembah Tuhanmu dan apa balasannya?” pinta sang raja.
“Surga, bila dia telah meninggal,” kata Dzulkifli.
“Apakah surga itu?” tanya sang raja.
“Adalah suatu tempat yang telah diciptakan oleh Allah SWT sendiri yang dipersiapkannya sebagai tempat tinggal bagi para kekasih-Nya. Para kekasih-Nya itu kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan dalam keadaan belia dengan usia mereka yang sekitar 30 tahun. Mereka itu semua akan masuk surga yang penuh dengan kenikmatan, suka cita, dan mereka akan kekal abadi di dalamnya. Mereka tetap selalu muda dan tidak pernah tua. Mereka bermukim di sana dan tidak akan keluar, hidup untuk selama-lamanya, tak pernah mati,” kata Dzulkifli.

“Lalu, apa balasan bagi orang yang tidak mau menyembah dan mendurhakai-Nya pula?” tanya sang raja kembali.
“Neraka, mereka ini akan dikumpulkan bersama-sama dengan setan, lalu diikat dengan rantai dan mereka hidup kekal abadi. Mereka akan selalu mendapatkan siksaan dan dalam keadaan hina-dina selama-lamanya. Mereka senantiasa dipukuli oleh malaikat Zabaniyah dengan palu besar yang terbuat dari besi. Makanan mereka adalah buah zaqqum dan duri, sedang minumnya adalah air mendidih,” jawab Dzulkifli.

Mendengar penjelasan Dzulkifli itu, sang raja pun gemetar dan menangislah dia, lalu dia berkata kepada Dzulkifli, “Bila aku beriman kepada Allah, apa yang aku dapatkan?”
“Surga,” jawab Dzulkifli singkat.
“Siapa yang berani menjamin aku?” tanya sang raja.
“Akulah yang akan menjamin tuan. Aku akan menulis sepucuk surat kepada Allah SWT untuk tuan. Jika tuan telah mangkat nanti, tuan akan mendapatkan manfaat dari surat itu, dan Allah akan memenuhi permohonan tuan, karena sesungguhnya Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Menang, Allah akan memenuhi janji-Nya dan akan memberikan tambahan kepada tuan,” jawab Dzulkifli.

Sang raja itu akhirnya berpikir sejenak, dan karena Allah telah menghendaki kebaikan atas diri raja itu, maka ia pun berkata, “Tulislah sepucuk surat untukku kepada Allah!” perintahnya.

Dzulkifli kemudian menulis sepucuk surat yang isinya Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ini adalah sebuah surat yang ditulis oleh si Fulan yang menjamin atas nama Allah SWT untuk Raja Kan’an karena adanya rasa kepercayaan dari dirinya terhadap Allah SWT. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebajikan. Untuk Kan’an atas Allah SWT dengan jaminan si Fulan. Bila dia telah bertaubat kembali dan mau beribadat kepada Allah SWT, semoga Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga serta memberikan tempat di sana sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga dia diberi segala sesuatu sebagaimana yang telah Dia berikan kepada para kekasih-Nya dan semoga Dia berkenan menyelamatkannya dari siksa-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengasih kepada semua orang yang beriman. Yang Maha Luas kasih sayang-Nya dan rahmat-Nya telah melampaui kemurkaan-Nya.”

Setelah dianggap cukup maka Dzulkifli menandatangani suratnya dan kemudian diserahkan kepada raja Kan’an. Saat menerima surat tersebut, raja Kan’an berkata, “Beritahukanlah bagaimana semestinya aku bertaubat?”

“Bangkitlah dan mandilah, lalu kenakanlah pakaian tuan yang baru-baru,” jawab Dzulkifli.
Raja Kan’an pun melakukan semua saran Dzulkifli, sesudah itu barulah Dzulkifli memerintahkannya untuk membaca kalimah syahadat serta membebaskan diri dari segala bentuk kemusyrikan. Segala sesuatu pun berjalan lancar. Kan’an kemudian berkata kepada Dzulkifli, “Bagaimana cara untuk menyembah Tuhanku?”

Dzulkifli lalu mengajarinya syariat Islam dan juga tatacara shalat. Sang raja berkata, “Wahai Dzulkifli, saya mohon agar kamu merahasiakan masalah ini dan jangan membocorkannya, sehingga aku sampai di suatu padang rumput nanti!”

Setelah berkata demikian, Kan’an meletakkan jabatannya sebagai raja dan ia pun kemudian menyelinap meninggalkan istana secara diam-diam, hingga sampailah dia di suatu padang rumput dan meneteslah air matanya.

Para punggawa kerajaan pun sibuk mencarinya ke sana kemari dan setelah mereka gagal menemukan rajanya, maka mereka berkata, “Cari Dzulkifli! Karena dialah yang telah membujuk tuhan kita.”

Kemudian berangkatlah sekelompok orang untuk mencari rajanya dan Dzulkifli sekaligus. Setelah mereka melakukan perjalanan sekitar satu bulan lamanya, akhirnya merekapun berhasil menemukan kembali rajanya. Saat menyaksikan rajanya sedang berdiri menunaikan shalat, mereka pun segera bersujud kepadanya. Mengetahui hal ini, Kan’an lantas berpaling kepada mereka seraya berkata, “Bersujudlah kalian kepada Allah dan jangan sekali-kali kalian bersujud kepada seorang pun dari makhluk ini. Ketahuilah, sesungguhnya aku telah beriman kepada Sang Pencipta langit, bumi, matahari dan bulan ini.” Kan’an kemudian memberikan nasihat dan sekaligus peringatan kepada mereka.

Selang beberapa hari kan’an pun terserang suatu penyakit hingga ajal menjemputnya. Sebelum ajal menjelang, dia sempat berkata kepada para sahabatnya, “Janganlah kalian meninggalkanku, karena inilah saat-saat terakhir hidup di dunia. Bila aku tiada nanti, makamkanlah aku!”

Setelah berkata demikian, Kan’an mengeluarkan suratnya dan membacanya di hadapan para sahabat sehingga mereka hafal betul dan memahami isinya. Kan’an berkata kepada mereka, “Ini adalah sepucuk surat yang ditulis untukku kepada Tuhanku, Allah SWT. Dengan harapan semoga aku dapat mengambil manfaat dari isi surat ini. Oleh karenanya, sertakan pula surat ini bersamaku di liang lahat nanti.”
Ketika Kan’an telah meninggal dunia, mereka pun mengurusnya dan meletakkan surat tersebut di atas dadanya dan memakamkannya.

Setelah Kan’an dikebumikan, Allah SWT lalu mengutus seorang malaikat agar datang kepada Dzulkifli seraya berkata, “Wahai Dzulkifli, sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada Kan’an atas jaminanmu dan inilah surat yang dulu kamu tulis untuknya. Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman, ‘Demikianlah Aku telah berbuat kepada orang yang ahli taat kepada-Ku.’”

Pada saat yang sama, datang pula sekelompok orang kepada Dzulkifli dan menangkapnya seraya berkata, “Engkaulah yang telah membunuh dan merayu raja kami!”

“Aku tidak pernah merayu dan menipunya, akan tetapi aku mengajaknya menyembah Allah, serta aku menjaminnya surga. Dan raja kalian telah tiada, teman-teman kalian pun telah mengebumikannya. Inilah surat yang dulu kutulis untuknya kepada Allah SWT guna memenuhi permintaannya, dan sekarang Allah telah memenuhi haknya. Surat ini telah menjadi saksi atas apa yang telah kuucapkan kepada kalian. Tunggulah sebentar di sini sampai sahabat kalian kemari!”

Akhirnya, orang-orang itu menahan Dzulkifli sampai para sahabat mereka datang. Mereka pun bertanya kepada para sahabat yang baru tiba itu tentang raja mereka. Para sahabatnya lalu menceritakan semua kisah yang telah dialaminya. Orang-orang itu kemudian bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah kalian mengerti perihal sepucuk surat yang telah kalian kubur bersama sang raja?”
“Ya, kami semua mengetahuinya,” jawab mereka.

Mereka kemudian mengeluarkan dan memperlihatkan surat itu serta membacakannya. Para sahabat yang baru datang itu pun berkata, “Itukah sepucuk surat yang dulu kami sertakan bersama jasad raja Kan’an. Pada hari dan jam sekian kami telah memakamkan beliau, surat ini pun kami sertakan.”

Pada saat itu orang-orang yang menahan Dzulkifli mulai berpikir dan menerka-nerka, tiba-tiba Dzulkifli membacakan isi surat tersebut dan memberitahukan tentang kematian raja mereka, bertepatan dengan saat wafatnya raja. Akhirnya mereka semua beriman dan mengikuti ajarannya, sehingga pada saat itu jumlah kaum yang beriman mencapai 124.000, dan Dzulkifli pun membuat jaminan kepada mereka sebagaimana jaminan yang telah dibuatnya bagi raja mereka terhadap Allah SWT. Karena kemurahan untuk memberikan jaminan kepada sesama manusia, dia pun mendapat gelar Dzulkifli (orang yang suka memberikan jaminan) – dimana nama aslinya adalah Ilyasa’.

Kisah Sang Ahli Ibadat dan Pelacur







Diriwayatkan dari Al Hasan; Dulu ada seorang wanita pelacur yang sangat cantik. Dia tidak mau melayani kecuali jika dibayar seratus dinar.

Pada suatu hari ada seorang ahli ibadat melihatnya dan kemudian terpikat olehnya. Laki-laki itu akhirnya pergi mencari pekerjaan guna mengumpulkan uang sebanyak seratus dinar. Setelah uang sebanyak itu ia dapatkan, dia pun pergi menemui wanita itu seraya berkata, “Sesungguhnya aku tergoda oleh kecantikanmu, karenanya aku lalu pergi mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang seratus dinar.”
“Silahkan masuk,” pinta si wanita itu.

Orang ahli ibadat itu kemudian masuk ke rumahnya. Di rumah wanita pelacur itu mempunyai sebuah tempat tidur terbuat dari emas. Wanita itu lalu duduk di tempat tidurnya seraya berkata, “Ayo cepat!”

Ketika laki-laki tersebut hendak memuaskan hasratnya kepada wanita tadi, seketika itu pun dia ingat akan kedudukan dirinya di sisi Allah dan gemetarlah seluruh persendiannya. Laki-laki itu lalu berkata kepada si wanita teman kencannya, “Biarlah aku keluar meninggalkanmu dan uang seratus dinar itu menjadi hakmu!”

“Apa yang terjadi kepada dirimu, bukankah kamu telah tergila-gila kepadaku hingga kamu pun memeras keringat untuk mendapatkan uang sebanyak seratus dinar? Sekarang kamu telah mendapatkan diriku, akan tetapi kamu justru meninggalkanku,” kata si wanita itu kepadanya.

“Ini karena aku takut kepada Allah dan juga atas kedudukanku di sisi-Nya. Kamu telah membenciku dan demikian juga kamulah orang yang paling aku benci,” kata laki-laki itu.

“Jika yang kamu katakan itu benar, aku tidak akan bersuami selain dengan dirimu,” jawab si wanita kepadanya.
“Biarkanlah aku keluar!” pinta laki-laki itu.
“Tidak, kecuali bila kamu bersedia menjadi suamiku!” desak wanita tadi.
“Tidak, biarkanlah aku keluar dulu!” jawab laki-laki tersebut.
“Apa yang membuatmu merasa berat bila aku datang memohon kepadamu untuk menikahi diriku?” kata wanita tersebut.

“Mungkin saja” jawabnya, sambil mengenakan cadar dengan kain bajunya, lalu keluar dari daerah tersebut. Demikian pula si wanita itu ikut keluar seraya bertaubat kepada Allah dan menyesali semua perbuatan yang pernah dilakukannya. Wanita itu terus berjalan hingga akhirnya sampailah dia ke tempat asal si laki-laki ahli ibadat itu. Si wanita itu lalu bertanya ke sana-kemari perihal laki-laki ahli ibadat yang pernah mendatanginya. Akhirnya jerih payahnya untuk menemukan laki-laki tersebut membuahkan hasil.

Seseorang lalu datang menghadap laki-laki ahli ibadat yang dimaksud wanita tersebut seraya berkata, “Sesungguhnya sang permaisuri telah datang kepadamu.”

Ketika sang ahli ibadat melihat kedatangan wanita itu, dia terkejut sambil menjerit dan jatuh dalam rengkuhan tangan si wanita itu. Ternyata dia telah meninggal dunia seketika itu juga. Si wanita itu lalu bertanya, “Si Fulan ini telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya, apakah dia masih mempunyai sanak keluarga?”
“Saudaranya adalah seorang laki-laki yang miskin,” jawab mereka yang hadir.
“Jika demikian, aku akan menikah dengannya karena kecintaanku kepada saudaranya,” jawab si wanita itu.

Akhirnya wanita tersebut dinikahkan dengan saudara laki-laki si ahli ibadat itu. Dan dari hasil pernikahan tersebut, Allah SWT mengaruniakan kepada mereka tujuh orang Nabi as.

Kisah Seorang Pemilik Roti






Diriwayatkan dari Abu Burdah;
Ketika menjelang wafat Abu Musa sempat berkata kepada putranya, “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seorang pemilik roti!

Dahulu di sebuah pertapaan ada seorang laki-laki tekun beribadah selama 70 tahun. Dia tidak pernah meninggalkan pertapaannya, kecuali pada hari-hari tertentu. Kemudian suatu ketika dia digoda oleh seorang wanita hingga dia pun terjatuh dalam bujuk rayunya, bahkan sempat tinggal bersama selama 7 hari sebagaimana layaknya suami-istri.

Setelah dia sadar dan taubat, maka ditinggalkannya pertapaan tersebut dan setiap kali melangkahkan kakinya senantiasa diikutinya dengan shalat dan bersujud. Sampailah dia di sebuah kedaii yang di dalamnya terdapat 12 orang miskin, sang pertapa itu pun bermaksud bermalam di sana. Karena tidak kuat menahan rasa letihnya dari sebuah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya dia tertidur pulas di antara beberapa laki-laki miskin dalam kedai tersebut.

Sementara itu, di sekitar kedai tersebut hiduplah seorang pendeta yang setiap malam selalu mengirimkan beberapa potong roti kepada penghuni kedai dengan masing-masing orang mendapatkan sepotong. Suatu saat datang pula pemilik roti lainnya yang juga membagi-bagikan roti kepada setiap penghuni kedai sepotong-sepotong, dan pertapa yang bertaubat yang melintas di depannya juga diberinya, karena dikira sebagai orang miskin sebagaimana penghuni lain dari kedai itu.

Salah seorang di antara orang-orang miskin ada yang tidak kebagian roti dari pemilik roti tersebut, dan berkatalah dia kepadanya, “Mengapa Anda tidak memberikan roti ini kepadaku?”
“Anda lihat sendiri, apakah aku menyimpan roti untuk Anda? Coba tanyakan kepada mereka, adakah salah seorang dari mereka yang kuberi roti sampai dua potong?” tanya pemilik roti itu.
“Tidak,” jawab para penghuni kedai serempak.
“Demi Allah, pada malam ini aku tidak akan memberikan sedikit pun roti kepadamu!” jawab pemilik roti itu.

Kemudian laki-laki yang bertaubat itu bermaksud mengambil roti yang telah diberikan kepadanya tadi untuk diberikan kepada orang yang tidak kebagian roti tersebut. Lalu keesokan harinya orang yang bertaubat itu meninggal dunia, dan ditimbanglah amal ibadah selama 70 tahun dengan kemaksiatan (dosa) yang dilakukannya selama 7 malam. Akan tetapi, ternyata amal ibadat selama 70 tahun itu terkalahkan dengan dosa akibat perbuatannya selama 7 malam, dan ketika dosa perbuatannya selama 7 malam itu ditimbang dengan sepotong roti, amal sepotong roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama 7 malam itu.”

Abu Musa lalu berkata, “Wahai anakku, ingatlah kamu akan pemilik roti itu!”

Kisah Sang Pemilik Kaki







Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam:
Di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang rajin dan tekun beribadat di sebuah surau.

Di surau itu dia beribadat dalam waktu yang cukup lama. Pada suatu hari dia melihat ke luar, ternyata di sana ada seorang wanita yang mampu memikat hatinya. Dia bermaksud mendekatinya, ketika hendak turun dari surau itulah Allah pun berkehendak lain atas dirinya.

Laki-laki itu kemudian berkata, “Apa sebenarnya yang telah kulakukan ini?”
Hati laki-laki itu sadar kembali, dan ia menjaga dirinya, kemudian dia menyesali perbuatannya.

Karenanya, saat melangkahkan kaki kembali ke dalam surau, dia berkata, “Celaka, celakalah kaki yang keluar hendak melakukan kemaksiatan kepada Allah, dan sekarang sudah kembali bersamaku ke dalam surau. Demi Allah, selamanya hal itu tidak akan terulang kembali!”

Demikianlah, laki-laki itu membiarkan kakinya bergelantungan di surau yang senantiasa diterpa oleh angin, hujan, matahari dan embun sehingga kaki itu terputus dan jatuh, dan kemudian Allah SWT menerima syukurnya.

Karena perbuatannya, kemudian namanya diabadikan dalam sebuah kitab dengan nama “Pemilik Kaki” dan begitulah orang-orang menyebutkan.

Kisah Pertaubatan Barkha, Seorang Ahli Ibadat






Pada masa Nabi Musa as, kaum Bani Israil pernah ditimpa bencana kekeringan, mereka pun memohon kepada beliau agar memintakan turunnya hujan kepada Allah. Nabi Musa as lalu berkata kepada mereka, “Keluarlah kalian semua bersamaku ke sebuah bukit!”

Kaum Bani Israil menuruti ajakan Nabi Musa as untuk keluar bersama beliau mendaki ke sebuah gunung. Sesampai di tempat tersebut, berkatalah Nabi Musa as kepada mereka, “Orang yang pernah melakukan dosa hendaklah jangan ada yang ikut bersamaku!”

Mereka semua lalu kembali, kecuali hanya seorang laki-laki buta sebelah matanya yang bernama Barkha Al Abid, yang masih setia mengikuti beliau.

“Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?” kata Nabi Musa as kepadanya.
“Ya, aku mendengarnya” jawab Barkha.
“Apakah kamu tidak pernah melakukan dosa?” tanya beliau kepadanya.
“Aku tidak tahu, kecuali sesuatu yang akan kusebutkan ini. Jika itu memang dianggap sebagai suatu dosa, aku akan kembali,” jawab Barkha.
“Apakah itu?” tanya Nabi Musa as kepadanya.

“Tadi aku lewat di sebuah jalan, dan di seberang jalan tampak sebuah kamar yang terbuka pintunya. Kemudian mataku yang sekarang buta ini sempat memandang sejenak seseorang yang tidak aku kenal. Kepada mataku, aku lalu berkata, ‘Engkau adalah termasuk anggota tubuhku dan engkau telah lancang melakukan kesalahan. Setelah ini engkau tidak boleh bersamaku lagi!’ setelah berkata demikian maka kutusuk mataku dengan jariku sendiri sehingga berakibat kebutaan ini. Jika perbuatan yang demikian ini juga merupakan perbuatan dosa, aku pun akan kembali” jawabnya kepada Nabi Musa as.

“Itu bukan perbuatan dosa,” kata Nabi Musa as kepadanya.
“Sekarang mohonlah hujan wahai Barkha!” perintah beliau kepadanya.

Barkha kemudian berdoa, “Wahai Dzat Yang Suci, wahai Dzat Yang Suci! Tidak ada sesuatu di sisi-Mu yang mustahil. Dan terhadap kebakhilan, Engkau tidak akan memberi pertolongan

Kisah Pernikahan Nabi Daud as Ke 100







Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda, “Dahulu Nabi Daud as telah membagi masa ini menjadi empat bagian: Satu hari diperuntukkannya mengkaji ilmu bersama kaum Bani Israil, satu hari dipergunakannya di mihrab, satu hari dipergunakan untuk melaksanakan pengadilan dan sehari lagi untuk para istri beliau.”

Ketika beliau sedang mengkaji ilmu bersama kaum Bani Israil, tiba-tiba sebagian dari mereka berkata, “Tidak sehari pun yang dilalui anak cucu Adam, kecuali dia melakukan suatu perbuatan dosa.”

Daud as berkata dalam hati, “Hari dimana aku menyendiri di mihrab, pasti aku terhindar dari dosa.” Allah pun menyampaikan wahyu kepada beliau, “Hai Daud, waspadalah sampai kau lihat cobaanmu!”

Dan diceritakan dari Al Hasan, “Ketika Daud as berada di mihrabnya sedang membuka-buka kitab Zabur untuk dibaca, tiba-tiba masuklah seekor burung dari sebuah celah rumah dan hinggap di hadapan beliau. Tubuh burung itu terbuat dari emas dan sepasang sayapnya dari sutera halus dan bermahkotakan mutiara. Paruhnya terbuat dari permata zamrud dan sepasang kakinya pun terbuat dari permata pirus.

Karena burung yang sangat indah itu hinggap di hadapan Nabi Daud as , beliau pun memperhatikannya dan berkeyakinan bahwa burung tersebut jenis burung surga, bahkan beliau terpesona akan keindahannya. Pada masa itu Nabi Daud as mempunyai seorang putera kecil, maka beliau berkata, “Sebaiknya burung ini aku tangkap saja, lalu kuperlihatkan kepada puteraku.”

Nabi Daud as berusaha menangkapnya, akan tetapi burung tersebut terbang menjauh, dan beliau pun tetap berkeinginan untuk mendapatkannya. Setiap kali tangan beliau hendak meraihnya, seketika itu pula burung tersebut menghindar. Begitulah seterusnya, setiap kali beliau mendekat, burung itu menjauh kembali hingga Nabi Daud as berdiri dari tempatnya dan menutup Kitab Zabur beliau.

Nabi Daud as mencarinya terus hingga sampailah di sebuah celah. Dan masuklah Daud as ke dalam lubang tersebut, tiba-tiba pandangan beliau menangkap sosok wanita yang sedang mandi. Beliau terpaku menyaksikan keindahan ciptaan Allah tersebut. Sementara sang wanita itu pun akhirnya mengetahui bahwa sepasang mata mengawasi dirinya, seketika itu diurainya keindahan rambut panjangnya untuk menutupi sekujur tubuhnya.

Kembali pada hadis Hasan. Hasan menambahkan; setelah wanita cantik itu menguraikan rambutnya. Daud as semakin bertambah kagum (akan kecantikannya). Kemudian beliau kembali ke tempat semula (mihrab) dengan hati yang dipenuhi gejolak cinta membara kepada sang wanita itu.

Akhirnya Daud as mengutus seseorang untuk mencari informasi tentang identitas wanita cantik tersebut. Utusan itu kembali kepada Nabi Daud as dengan membawa informasi yang didapatkannya. “Dia bernama Tasyayu, putri Hanana. Suaminya bernama Uriya bin Shura, kini berada di Balqa’ bersama kemenakan (putra saudara wanita) Nabi Daud, sedang mengepung sebuah benteng musuh.

Nabi Daud as akhirnya mengirim surat kepada kemenakannya yang berisikan:
“Jika suratku ini sudah sampai kepadamu, maka perintahkanlah kepada Uriya bin Shura agar dia membawa tabut dan bergabung dalam barisan (tentara) terdepan kita!”
Biasanya anggota pasukan yang berada pada barisan terdepan, tidak kembali sebelum terbunuh atau mendapatkan kemenangan dari Allah SWT.

Pemimpin tentara itu memanggil Uriya dan kemudian membacakan surat Nabi Daud as. Uriya pun menjawab, “Aku siap melakukan semuanya!”
Uriya lantas membawa tabut dan berjalan bersama-sama pasukan di barisan terdepan, dan akhirnya terbunuh. Setelah Uriya gugur, putra saudara wanita (kemenakan) Daud as berkirim surat kepada beliau untuk mengabarkan berita tentang gugurnya Uriya.

Ketika masa iddah istri Uriya telah habis, Daud as mengutus seseorang meminang Tasyayu’. Selanjutnya menikahlah mereka.
Setelah Nabi Daud as menyunting Tasyayu binti Hanana, ketika sedang berkhalwat di mihrab, tiba-tiba menangkap suara keras yang diikuti munculnya dua laki-laki asing. Keduanya lantas menyerbu Nabi Daud as, hingga beliau pun terkejut karenanya. Kedua laki-laki itu berkata, “Jangan terkejut! Kami adalah dua orang laki-laki yang sedang terlibat dalam suatu perkara, dimana salah satu dari kami telah berbuat zalim atas yang lain. Karena itu, berilah kami keputusan yang adil dan janganlah Anda menyimpang dari kebenaran dan tunjukan kami ke jalan yang lurus!”

Nabi Daud as berkata, “Coba ceritakan kepadaku akan keberadaan kalian berdua!”
Salah seorang dari keduanya berkata, “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina, sedangkan aku hanya memiliki seekor. Saudaraku ini lalu berkata kepadaku, ‘Serahkanlah kambing itu kepadaku!’ Dia pun selalu mengalahkanku dalam setiap perdebatan, yakni dengan memaksa dan berbuat aniaya terhadapku. Dia pun secara paksa meminta dan mengambil kambingku untuk digabungkan dengan kambing-kambingnya. Dalam berbicara pun dia lebih unggul dibanding aku, jika dipanggil, dialah yang lebih dahulu datang dan jika keluar, dia lebih banyak pengikutnya.”

Nabi Daud as lalu berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS Shaad: 24)

Perawi hadis ini selanjutnya mengatakan, “Kemudian tertawalah orang yang dituduh melakukan semua itu.”

Nabi Daud as pun berkata, “Engkau telah berbuat zalim, mengapa justru tertawa, rupanya kau perlu kapak untuk menghancurkan ini dan inimu?” – yakni kening dan mulutnya.

Malaikat (yang berubah wujud menjadi seorang laki-laki) itu lalu berkata, “Saya kira Andalah yang perlu diperlakukan begitu!” Akhirnya kedua malaikat itu menghilang.

Dalam riwayat lain perawi berkata, “Kedua malaikat itu lalu mengubah bentuknya (pada bentuknya yang asli) dan kemudian naik (ke langit) seraya berkata, “Lelaki ini telah menghakimi dirinya sendiri.”

Nabi Daud as pun mengerti bahwa yang dimaksud adalah diri beliau sendiri. Beliau pun merebahkan diri, bersujud selama 40 hari. Selama bersujud beliau tidak pernah mengangkat kepala, kecuali hanya untuk melakukan suatu kebutuhan yang semestinya dilakukan. Seusai menunaikan kebutuhannya, beliau pun sujud kembali.

Dalam keseharian beliau tidak makan dan minum, beliau terus-menerus menangis sehingga di sekitar kepala tumbuh rerumputan. Nabi Daud as selalu memanggil nama Tuhannya, Allah SWT seraya mengucapkan taubat.

Dalam sujudnya selalu membaca, “Maha Suci Sang Pencipta cahaya yang menghalangi semua hati. Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, Engkau telah mengosongkan antara aku dan musuhku iblis sehingga aku tidak mampu untuk memfitnahnya ketika Engkau turun bersamaku.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, selamanya aku tidak pernah mengambil hikmah dari apa yang pernah aku nasihatkan kepada orang lain. Tuhanku, Engkau telah memerintahkan kepadaku agar aku terhadap anak yatim bagaikan sang ayah yang penuh kasih sayang dan terhadap sang janda bagaikan suami yang penuh kasih sayang pula, tapi aku lalu melupakan akan janji Engkau.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, dengan mata yang mana aku harus melihat Engkau pada hari kiamat nanti? Karena sesungguhnya orang-orang yang zalim telah memandang dari sisi yang samar-samar.
Maha Suci Sang Pencipta, Tuhanku! Kecelakaanlah bagi Daud akibat dosa besar yang telah menimpanya.
Maha Suci Sang Pencipta, Tuhanku. Kerusakanlah bagi Daud ketika tabir telah dibuka darinya.”

Kemudian kepada beliau dikatakan, “Inilah Daud yang salah itu?”

(Nabi Daud as meneruskan doanya) , “Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Tuhanku, hanya kepada Engkau-lah aku lari dengan membawa segala dosaku dan aku mengaku atas segala kesalahanku. Oleh karena itu, janganlah Engkau jadikan aku orang-orang yang berputus asa dan jangan pula Engkau susahkan aku pada hari Kiamat nanti.”

Nabi Daud as mengulang-ngulang doa tersebut dalam munajat beliau.

Selanjutnya dikatakan oleh sang perawi, “Lalu datanglah panggilan kepadanya, ‘Laparkah engkau maka engkau akan diberi makan? Hauskah engkau maka engkau akan diberi minum? Teraniayakah engkau maka engkau akan diberi pertolongan?’ Akan tetapi, Daud as tidak menanggapinya dalam menyebutkan kesalahannya.

Dikatakan pula oleh sang perawi, “Nabi Daud as pun berteriak dengan teriakan yang menggoncangkan apa yang ada di sekeliling beliau. Beliau memanggil-manggil, ‘Wahai Tuhanku! Ampunilah dosa yang telah menimpaku!’ Beliau pun dipanggil, ‘Wahai Daud, angkatlah kepalamu! Sungguh Aku telah mengampuni dosamu’.”

Dari Wahb bin Munabbih, “Sesungguhnya ketika Nabi Daud as datang ke makam Uriya, beliau duduk bersimpuh di sisinya seraya menuangkan debu di atas kepala beliau dan berkata, “Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud. Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakanlah bagi Daud ketika timbangan amal telah dipancangkan.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud pada hari ketika orang yang dianiaya telah menuntut balas kepada orang yang menganiaya.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud ketika dia dicampakkan di atas mukanya ke neraka bersama dengan orang-orang yang bersalah.
Maha Suci Sang Pencipta cahaya! Kerusakanlah bagi Daud, kemudian kerusakan yang panjanglah bagi Daud.”

Berkatalah sang perawi, “Lalu sampailah kepada Nabi Daud as sebuah panggilan dari langit, “Wahai Daud, sungguh Aku telah mengampuni dosamu, Aku telah mengasihi tangismu dan Aku telah memaafkan kesalahanmu.”
Nabi Daud as berkata, “Bagaimana mungkin Engkau memberikan ampunan kepadaku, sedangkan temanku ini tidak mau mengampuniku.”
Allah SWT berfirman, “Wahai Daud, Aku telah memberikan pahala kepadanya di akhirat nanti, dimana (kenikmatan) pahala itu sebelumnya belum pernah dipandang oleh kedua matanya dan belum pernah didengar oleh kedua telinganya.
Lalu Ku-katakan, “Puaskah hamba-Ku?”
Ia berkata, “Dari mana aku mendapatkan ini, padahal amalku belum mencapainya?”
Aku pun berfirman kepadanya, “Ini adalah sebagai pengganti dari hamba-Ku Daud, lalu Aku memintanya memberikannya kepadamu dan dia memberikannya kepadamu karena Aku.”

Nabi Daud as pun berkata, “Wahai Tuhanku, sekarang aku tahu bahwa Engkau telah mengampuniku.”

Copyright @ 2013 Kisah Sejarah Islam.