Rabu, 03 Desember 2014

Kisah Rindunya Seekor Ular








kecintaan dan getar hati Abu Bakar. Ketika Rasulullah harus hijrah ke Madinah. Beliau mengajak Sayidina Abu Bakar, orang yang sangat dekat dengan Beliau untuk menjadi pendamping dalam perjalanan menuju ke Madinah. Sayidinia Abu Bakar dengan penuh adab yang bersungguh, kata kuncinya dengan “Penuh Adab yang Bersungguh”, di ajak ke Madinah. Harusnya dari kediaman Beliau berjalannya adalah ke Utara, karena Madinah secara geografis terletak di Utara dari Mekah, tetapi Rasulullah berjalan menuju ke Tenggara

Sayyidina Abu Bakar tidak bertanya, Beliau ikut saja apa yang dibuat oleh Rasulullah, karena di hati Beliau ada “cinta” dan “percaya” dan sesuatu yang tidak lagi perlu tawar-menawar. Rasulullah Al Amin,tidak pernah keluar dari lidah Beliau sesuatu yang tidak patut tidak dipercaya. Pribadinya penuh pancaran kecintaan. Mencintai dan sangat pantas dicintai. Pribadinya begitu rupa menimbulkan kerinduan

Nabi Muhammad berjalan. Sayidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayidina Abu Bakar sadar.Mau istirahat ke Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur.Sebelum Nabi Muhammad memasuki gua, Abu Bakar dengan sigapnya mengecek dan menutup lubang-lubang yang ada di gua guna terhindar dari binatang buas.

 Di dalam gua, mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dalam tidurnya, Muhammad saw melabuhkan kepalanya di pangkuan sang sahabat. Di dalam gua yang dingin dan remang-remang,tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar.Abu Bakar r.a menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah saw. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah SWT itu.

 Abu Bakar r.a menutup lubang itu dengan salah satu kakinya.lalu ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun Dalam hening, sekujur tubuh Abu Bakar r.a terasa panas, ketika bisa ular menjalar cepat di dalam darahnya. Abu Bakar r.a tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah saw yang tengah berbaring.

Rasulullah saw terbangun dan berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?” “Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun,” jawab Abu Bakar r.a. “Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” bertanya Rasulullah saw dengan bersahaja. “Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai Rasulullah saw, dan bisanya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku.

Lalu Nabi Muhammad berbicara kepada ular itu ” Hai Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?”
Dialog Rasulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

 “Ya aku ngerti Kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.
  “Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.

Apa kata Allah?

 “Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah.


“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad. “Jawab Ular
“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah.

 Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah saw meraih pergelangan kaki Abu Bakar r.a. Dengan mengagungkan nama Allah SWT pencipta semesta, Nabi Muhammad saw mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah SWT, seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.
Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar r.a yang beristirahat dan Rasulullah saw berjaga. Dan, Abu Bakar r.a menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah saw menawarkan pangkuannya untuk beristirahat. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

Sabtu, 29 November 2014

Kisah Ulama Dan Kuli Pengangkut Air







SUATU hari, ada seorang kuli pengangkut air yang sehari-harinya senantiasa mengucapkan tahmid dan istighfar. Karena penasaran, Hasan Al-Basri, Sang Penghulu para ulama, melihat hal tersebut dan menanyakan kepada sang kuli pengangkut air  yang saat itu berkunjung ke rumahnya.
“Kalau boleh tahu sejak kapan engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri.
“Sudah lama”, jawab sang kuli pengangkut air.
“Kenapa engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri.
Sang kuli  menjawab, “Karena kita selalu berada dalam dua keadaan, kala kita mendapatkan nikmat, seperti nikmat Iman, nikmat Islam dan nikmat kesehatan, kita harus bersyukur kepada Allah namun kala kita berada dalam kondisi lalai, banyak melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menimbulkan kemudharatan, kita harus meminta ampun kepada-Nya,” jawab sang kuli.
“Lalu apa faidahnya jika engkau mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri lagi.
“Doa-doaku selalu dikabulkan. Tapi ada satu doaku yang belum Allah kabulkan,” katanya.
“Boleh aku tahu doa apa itu?”
“Allah belum mengabulkan doaku untuk bertemu dengan ulama yang sangat ku kagumi.”
“Siapakah ulama itu?”
“Hasan Al-Basri”
Hasan Al-Basri kemudian memeluk sang kuli  dan berkata, “Sekarang Allah telah mengabulkan doamu, akulah Hasan Al-Basri itu.”
Sang kuli pun terkejut dan tidak berhenti mengucap puji syukur karena Allah telah mengabulkan doanya

Jumat, 25 Juli 2014

Kisah 2 Saudara Penyembah Api








Pada zaman Malik bin Dinar ada dua orang bersaudara yang beragama Majusi. Kakaknya telah menyembah api selama 73 tahun, sedangkan adiknya telah menyembah api selama 35 tahun. Lalu adiknya berkata kepada kakaknya.
Adik: “Mari kita mencoba api yang kita sembah-sembah, apakah ia menghormati kita atau membakar kita sebagaimana ia membakar kepada orang yang tidak mau menyembahnya. Jika ternyata api itu menghormati kita maka kita menyembahnya, dan jika tidak maka tidak usah kita sembah.”
Kakak: “Baiklah!” Lalu keduanya menyalakan api.
Adik: “Apakah engkau dulu yang meletakkan tanganmu atau saya?”
Kakak: “ Engkau saja yang mencoba meletakkannya.”
Lalu adiknya meletakkan tangannya di atas api, maka terbakarlah jari-jarinya dan iapun mengeluh seraya berkata “Aduuuh!” sambil melepaskan tangannya dari api, dan mengatakan “Hai api, aku telah menyembahmu selama 35 tahun, tetapi kamu masih menyakiti aku.” Kemudian ia berkata kepada kakaknya.
Adik: “ Kakak kemarilah, mulai sekarang aku akan menyembah Tuhan Allah Yang Maha Esa. Andaikata aku berbuat dosa dan meninggalkan perintah-Nya selama 500 tahun umpamanya, maka Dia tetap berkenan melewatkan siksaannya dari kita, dan mau mengampuni dosa kita karena keta’atan satu jam dan memohon ampun sekali saja.”
Kakak: “ Jika demikian, marilah kita pergi mencari orang yang mau menunjukkan jalan yang benar dan mengajarkan agama Islam kepada kita.”
Maka pendapat keduanya sepakat untuk pergi menjumpai Malik bin Dinar agar beliau menjelaskan agama Islam. Keduanya terus berangkat mendatangi Malik bin Dinar, kebetulan keduanya dapat menjumpai beliau di pertengahan kota Bashrah yang sedang duduk dikerumuni orang banyak, beliau sedang mengajar dan menasehati mereka. Setelah keduanya melihat Malik bin Dinar, maka kakaknya berkata kepada adiknya.
Kakak: “ Terus terang saja aku tidak akan masuk islam. Sebab umurku telah terlampau banyak untuk menyembah api. Jadi kalau aku masuk islam dan kembali kepada agama Islam dan agama Muhammad, maka keluargaku dan tetanggaku pasti akan menegurku. Sedangkan aku lebih mencintai api daripada teguran mereka.”
Adik: ‘Jangan engkau perbuat, sebab teguran mereka benar-benar akan sirna sedangkan api neraka itu selamanya tidak akan sirna.”
Ternyata kakaknya sudah tidak mau memperhatikan saran adiknya.
Adiknya lalu berkata kepada kakaknya : “Silakan engkau tetap dalam kelakuanmu, engkau memang anak orang celaka dan memang orang celaka dan kerusakan dunia akhirat.” Ternyata kakaknya pulang kembali dan tidak mau masuk islam. Akhirnya keduanya berpisah. Adiknya beserta anak-anak dan istrinya lalu datang di majelis orang banyak yang sedang memperhatikan nasehat Malik bin Dinar. Mereka ikut duduk menunggu selesainya Malik bin Dinar mengajar. Seusai beliau mengajar, lalu orang muda tadi berdiri di hadapan Malik bin Dinar sambil menceritakan keadaannya selama menyembah api dan meminta agar beliau memberikan petunjuk-petunjuk agama islam kepadanya beserta anak dan istrinya. Malik bin Dinar memberikan petunjuk-petunjuk agama islam kepadanya. Akhirnya mereka memeluk agama islam. Para manusia yang hadir di situ sama menangis semuanya karena merasa senang dan terharu. Ketika ia akan pulang maka Malik bin Dinar berkata: “Engkau tetap di sini dulu akan saya mintakan derma dari sahabat-sahabatku untuk mencukupi kebutuhanmu sekeluarga.” Maka ia menjawab: “ Aku tidak akan menjual agama dengan harta dunia.” Ia terus pergi ke tempat yang sepi. Kebetulan di situ ada rumah yang baru sekali dibangun, lalu ia tinggal di dalamnya. Pada pagi harinya istrinya berkata pada suaminya.: “Pergilah ke pasar dan carilah pekerjaan. Nanti jika sudah mendapatkan upah untuk membeli sesuatu yang akan kita makan.” Ia lalu pergi ke pasar tetapi tidak ada seorangpun yang memberikan buruhan dan upah kepadanya. Maka iapun berkata pada dirinya, kalau begini aku akan bekerja pada Allah Ta’ala. Ia lalu masuk masjid yang sudah tidak pernah dipergunakan berjamaah, ia terus shalat di dalamnya sampai malam. Kemudian ia pulang ke rumahnya dengan tangan kosong tidak membawa apa-apa. Istrinya bertanya: “ Apakah hari ini engkau tidak memperoleh apa-apa?” Ia menjawab: “Hai istri, hari ini aku bekerja pada seorang raja, tetapi dia belum memberikan sesuatu kepadaku, semoga besok padi dia akan memberi kepadaku.” Jadi semalam mereka kelaparan. Pagi harinya ia pergi lagi ke pasar. Tetapi juga tidak mendapat pekerjaan. Ia terus pergi ke masjid lagi dan melakukan shalat sampai malam karena Allah Ta’ala, kemudian ia pulang ke rumahnya juga dengan tangan kosong tidak membawa apa-apa. Istrinya bertanya kepadanya: “Apakah hari ini engkau juga tidak mendapatkan apa-apa?” Ia menjawab: “ Hari ini aku bekerja kepada seorang raja seperti yang aku kerjakan kemarin, semoga dia akan memberikan upah besuk pagi, yaitu hari jumat.” Jadi anak dan istrinya tetap kelaparan. Setelah pagi yaitu hari jumat ia pergi ke pasar lagi juga tidak memperoleh pekerjaan. Maka ia terus ke masjid itu, lalu shalat dua rakaat, kemudian ia mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa: “Wahai Tuhanku, junjunganku dan kekasihku! Engkau benar-benar telah memuliakan aku dengan agama islam dan memakaikan mahkota padaku dengan mahkota islam serta memberikan petunjuk kepadaku dengan mahkota petunjuk. Maka dengan kemuliaan agama yang engkau limpahkan kepadaku, dan demi kemuliaan hari yang penuh berkah lagi mulia dan yang agung pangkatnya di sisi-Mu yaitu hari jumat, aku memohon kepadaMu semoga Engkau berkenan melenyapkan kesibukan belanja keluargaku dari hatiku, dan semoga Engkau berkenan melimpahkan rizki kepadaku yang tidak tersangka-sangka datangnya. Demi Allah, sesungguhnya aku ini malu terhadap keluargaku dan tanggunganku (istri dan anak-anakku) dan aku khawatir terhadap berubahnya tingkah mereka itu karena baru saja memeluk islam.” Kemudian ia berdiri dan sibuk melakukan shalat dan ia shalat dua rakaat. Setelah tiba waktu pertengahan siang, seorang yang masih muda itu keluar untuk berjumatan, dimana anak-anaknya masih dalam keadaan sangat lapar. Setelah ia pergi, tiba-tiba rumahnya didatangai tamu seorang laki-laki seraya mengetuk pintu. Istrinya lalu keluar, ternyata yang mengetuk pintu itu adalah seorang pemuda yang bagus rupanya, tangannya menggenggam uang emas yang dibungkus dengan sapu tangan. Tamu itu lalu berkata pada wanita: Ambillah bungkusan ini dan katakan kepada suamimu bahwa ini adalah upah kerjanya selama dua hari. Dan hendaklah ia menambah pekerjaannya nanti upah juga akan saya tambah, terutama tambahan pekerjaan pada hari jumat ini. Karena sesungguhnya amal sedikit pada hari jumat ini menurut Raja Yang Maha Kuasa dianggap banyak. Wanita itu lalu mengambil bungkusannya, setelah dibuka ternyata berisi uang 1000 (seribu) dinar dan ia hanya mengambil satu dinar, lalu ia bawa kepada tukang real yang beragama Nasrani. Tukang real itu lalu menimbang uangnya, setiap satu mitsqal ternyata bobotnya bertambah dua mitsqal. Setelah ia melihat capnya, ternyata bukan dinar dunia. Jadi tukang real itu tahu bahwa uang dinar itu merupakan hadiah dari akhirat. Maka ia bertanya kepada wanita itu: “ Dari mana engkau mendapatkan dinar ini?” Lalu wanita tadi menceritakan semua ihwal suaminya mulai awal sampai akhir. Setelah ia mendengarkan keterangan wanita tadi, lalu ia berkata kepadanya: “Tunjukkanlah kepadaku tentang islam.” Setelah dijelaskan ia masuk islam dan memberikan uang sebesar 1000 (seribu) dirham kepada wanita seraya berkata: “ Uang 1000 (seribu) dirham ini engkau belanjakan unuk keluargamu, dan jika sudah habis beritahukanlah kepadaku.” Maka setelah lelaki muda suami wanita iu selesai shalat lalu ia pulang dengan tangan kosong, dan ia membuka sapu tangannya dipenuhi dengan debu sambil berkata dalam hatinya: “ kalau nanti istriku bertanya engkau membawa apa, akan kujawab membawa tepung.” Setelah ia sampai di rumahnya, ia melihat lambaran yang sudah disediakan dan berbau makanan. Ia lalu meletakkan sapu tangan didekat pintu agar istrinya tidak tahu. Kemudian ia berkata kepada istrinya tentang kejadian apa yang dilihat di rumah. Maka istrinya menceritakannya secara lengkap. Suaminya terus bersujud syukur kepada Allah Ta’ala. Istrinya bertanya: “Apa yang engkau bawa dalam sapu tangan ini?” Jawabnya: “Tidak perlu anda tanyakan kepadaku.” Istrinya lalu mengambil sapu tangan dan membukanya, maka tiba-tiba debu tadi telah berubah menjadi tepung dengan izin Allah Ta’ala. Maka lelaki muda itu terus bersujud syukur kepada Allah, dan terus tekun beribadah kepada Allah Ta’ala hingga mati.
Al Faqih berkata: Angkatlah kedua tanganmu ke langit dan berdo’alah dengan kemuliaan hari jumat:
Ighfirlanaa dhunuubanaa waksyif’annaa kurbatanaa
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan bukakanlah kesempitan kami.”
Orang muda itu ketika berdoa kepada Allah dan memohon syafa’at kepadaNya dengan hak hari jumat, maka hajat kebutuhannya dikabulkan dan diberi rizki oleh Allah dengan tidak tersangka-sngka datangnya. Maka demikian pula kami, apabila kami berdoa pada hari jumat semoga Allah memenuhi kebutuhan kami, karena Dialah Maha Belas Kasihan dan Penyayang dan Tuhan Yang Maha Derma.

Selasa, 08 Juli 2014

Kisah Jibril Menyumpalkan Tanah Ke Mulut Firaun







Al Qur’an telah menyampaikan kepada kita secara panjang lebar tentang Fir’aun, tentang kesombongan dan kelalaiannya, tentang sepak terjang dan perilakunya dalam menghadapi kebenaran. Al Qur’an juga menyampaikan kepada kita tentang turunnya adzab Alloh kepadanya dan bala tentaranya. Manakala turunnya adzab Alloh kepadanya dan bala tentaranya. Manakala Alloh menenggelamkannya lalu membinasakannya, Jibril hadir untuk menyaksikan. Jibril telah memberitahu Rosululloh SAW bahwa pada saat Fir’aun tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil.” Jibril menyumpal mulutnya dengan lumpur laut, sehingga dia tidak bisa berucap kalimat tauhid, karena takut dia meraih rahmat Alloh dan taubatnya diterima.
Apa yang dilakukan oleh Jibril tidak lain karena kebenciannya yang sangat besar terhadap thaghut yang tenggelam dalam kekufuran dan kerusakan ini. Dia memerangi Islam dan memfitnah orang-orang beriman.
Mungkin ada yang berkata, “Apa ruginya Jibril kalau Alloh memberi rahmat kepada Fir’aun dan mengampuninya?” jawabnya adalah bahwa seorang hamba sampai pada keadaan membenci orang-orang zalim dimana dia berdoa kepada Alloh agar taubat mereka tidak diterima dan tidak dimasukkan ke dalam rahmat-Nya. Ini terjadi pada Musa. Dia berdo’a atas Fir’aun dan bala tentaranya agar Alloh mengunci mata hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat adzab yang pedih. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah member kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS. Yunus:88)

Minggu, 06 Juli 2014

Kisah Iblis Menemui Ajal








Abu Laits Samarkandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Afnah bin Qays berkata: Saya pergi ke Madinah ingin bertemu dengan Omar bin Al Khattab RA, tiba-tiba saya bertemu dengan Ka'bul Ahbaar yang menceritakan dalam suatu majlis, "Ketika Adam AS sedang menghadapi saat kewafatan, baginda berkata: "Ya Rabbi, musuhku pasti akan mengejek padaku jika ia melihat aku telah mati, padahal ia diberi hingga hari kiamat".
Maka di jawab Allah SWT: "Hai Adam, kamu langsung menuju ke syurga, sedang si celaka (iblis) ditunda hingga hari kiamat supaya merasakan sakit maut, sebanyak makhluk yang pertama hingga yang terakhir". Lalu nabi Adam AS pun bertanya kepada malaikat Izrail: "Sebutkan kepadaku bagaimana rasa pedihnya maut". Sesudah diterangkan oleh malaikat Izrail, nabi Adam AS pun berkata: "Tuhanku, cukup!! cukup!!"
Maka gemuruhlah suara para hadirin berkata: "Hai Abul Ishaq, ceritakan pada kami, bagaimanakah ia merasakan maut, pada mulanya Ka'abul Ahbaar menolak, tetapi kerana didesak, maka ia berkata: "Jika dunia sudah akhir dan hampir ditiup sangkakala, sedang orang ramai di pasar sedang sibuk bertengkar dan berdagang, tiba-tiba terdengarlah suarayang sangat keras di langit, sehingga separuh penduduk bumi pengsan kerananya selama tiga hari.
Bagi mereka yang tidak pengsan bingung bagaikan kambing ketakutan. Dalam keadaan hirik pikuk sedemikian, maka terdengarlah lagi satu suara gemuruh bagaikan suara halilintar yang sangat keras bunyinya, maka tidak seorangpun melainkan mati kerananya dan kesemua manusia, jin, binatang, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain makhluk mati, maka tiba giliran iblis laknatullah pula untuk merasainya.
Maka Allah SWT pun memerintahkan malaikat Izrail: "Aku telah menjadikan padamu pembantu sebanyak orang yang pertama hingga yang terakhir dan Aku telah memberikan kekuatan penduduk langit dan bumi dan kini Aku pakaikan kepadamu pakaian murka dan kemarahan, maka turunlah dengan membawa murka dan kemarahanKu kepada si celaka dan terkutuk iblis. Maka rasakan kepadanyakepedihan maut yang telah dirasakan oleh orang yang terdahulu hingga terakhir dari jin dan manusia, berlipat-lipat ganda, dan hendaknya kamu membawa tujuh puluh ribu malaikat yang kesemuanya penuh rasa murka dan kecemasan, dan tiap malaikat Zabaniyah membawa rantai dari neraka Ladha, dan cabutlah dengan tujuh puluh ribu bantolan dari neraka Ladha, dan beritakan pada malaikat Malik supaya membuka pintu-pintu neraka".


Maka turunlah malaikat Izrail dengan bentuk yang sangat mengerikan, sehingga andai kata seluruh penduduk langit dan bumi dapat melihat bentuk yang mengerikan itu niscaya akan cair kesemuanya kerana tersangat ngeri akan keadaan bentuknya, maka apabila sampai kepada iblis laknatullah dan dibentaknya sekali sahaja, langsung ia pengsan dan berdengkur dan andaikan dengkur itu dapat didengari oleh penduduk timurhingga barat, niscaya pengsanlah kesemuanya.
Setelah sedar iblis laknatullah, lalu malaikat Izrail pun membentak iblis laknatullah sekali lagi: "Berhentilah hai penjahat!!!, kini aku rasakan padamu kepedihan maut sebagaimana dirasakan oleh banyaknya hitungan orang yang telah engkau sesatkan dalam beberapa abad yang engkau hidup, dan hari inilah hari yang ditentukan oleh Tuhan bagimu, maka ke manakah engkau akan lari!!"
Maka larilah iblis laknatullah lari ketakutan ke hujung timur, tiba-tiba malaikat Izrail muncul di hadapannya. Lalu iblis laknatullah pun menyelam ke dalam laut, namun malaikat Izrail tetap muncul di hadapannya, lantas ia dilemparkan oleh laut, maka ia berlari keliling bumi, namun tetap tidak ada tempat untuknya berlindung. Kemudian iblis laknatullah berdiri di tengah dunia di kubur nabi Adam AS sambil berkata: "keranamu aku telah menjadi celaka, duhai sekiranya aku tidak dijadikan". Lalu ia bertanya pada malaikat Izrail: "Minuman apakah yang akan kau berikan padaku dan dengan siksa apakah yang akan kau timpakan kepadaku?"
Malaikat Izrail pun menjawab: "Dengan minuman dari dari neraka Ladha dan serupa dengan siksa ahli neraka dan berlipat-lipat ganda", maka bergulingan iblis laknatullah di tanah sambil menjerit sekeras suaranya, kemudian berlari ketakutan dari barat ke timur dan patah balik dari timur ke barat dan sampai ke tempat mula-mula ia diturunkan ke muka bumi ini.
Maka malaikat Zabaniyah AS pun menghadang iblis laknatullah dengan bantolan-bantolan dari neraka Ladha. Bumi ini bagaikan bara api, sedang iblis laknatullah dikerumuni oleh malaikat Zabaniyah dan menikamnya dengan bantolan-bantolan dari neraka itu.
Tatkala iblis laknatullah mula merasai sakratul maut maka dipanggil nabi Adam AS dan Siti Hawa untuk melihat keadaan iblis laknatullah itu, maka bangkitlah keduanya untuk menyaksikannya. Sesudah melihat, maka keduanya berdoa: "Ya Tuhan kami, sungguh engkau telah menyempurnakan nikmatMu pada kami".
Wallahu'alam.

Jumat, 04 Juli 2014

Kisah Kurma Dan Labu








Di suatu musim panas Nashruddin Hoja pergi ke suatu desa dengan mengendarai keledainya. Karena lelah ia berhenti dan bernaung di bawah sebatang pohon korma dan mengikatkan keledainya pada batang pohon korma yang lain. Di keteduhan pohon korma itu Nashruddin duduk-duduk santai,  dan sambil beristirahat ia  mengeringkan keringatnya yang bercucuran akibat cuaca yang cukup panas. Dan dalam pada itulah ia melihat rerimbunan pohon labu yang tumbuh subur di sekitar batang-batang korma tersebut. Dengan hati yang takjub Nashruddin merenung keadaan dua macam tetumbuhan yang berbeda tersebut. Nashruddin berkata dalam hatinya: “Subhanallah, wahai Tuhanku mengapa Engkau menciptakan batang pohon labu yang buahnya besar-besar ini hanya  seukuran benang yang kasar, sedangkan korma yang kecil-kecil Engkau berikan batang yang besarnya kadang-kadang lebih dari sepelukkanku.”

Baru saja Nashruddin membathin dengan hatinya, tiba-tiba beberapa butir korma yang sudah tua jatuh menimpa kepalanya. Nashruddin terkejut lalu melepas surbannya dan meraba kepalanya yang setengah botak. Kemudian buru-buru ia beristigfar dan berkata: “Ya Allah, sungguh aku bertaubat kepadamu dan tidak akan turut campur lagi dalam uruusan-Mu menciptakan alam semesta ini. Segala yang engkau ciptakan tentulah mengandung hikmah dan rahasia yang besar, dan itu hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang mengalaminya. Andai saja buah-buah korma itu sebesar labu yang Engkau ciptakan, maka pastilah kepalaku remuk dan akupun mati dalam kebodohan.”  Kemudian Nashruddin buru-buru melanjutkan perjalanannya.

Kisah Tetangga Pengganggu







Suatu ketika Syaikh Malik bin Dinar menyewa rumah dari seorang Yahudi. Setelah Malik pindah ke rumah sewanya, si Yahudi memindahkan kamar mandi dan wc-nya ke sebelah dinding tempat tinggal Malik bin Dinar, padahal dinding pemisah antara keduanya sudah rapuh dan banyak yang berlubang. Keadaan itu membuat air bekas mandi dan air najis dari rumah Yahudi itu membasahi ruang rumah  Malik bin Dinar, bahkan membasahi mihrab tempat sholatnya Malik. Si Yahudi memang sengaja melakukan hal itu, agar Malik terganggu sehingga sebelum habis masanya Malik sudah pindah dari rumah yang ia sewakan kepada Malik. Akan tetapi Malik sedikitpun tidak marah, bahkan dengan senang hati setiap hari dan setiap saat ia bersihkan semua kotoran yang masuk ke ruangan rumahnya tersebut. Dan tak pernah sepatah katapun ia ucapkan kepada si Yahudi tentang perkara itu.


Lama-kelamaan si Yahudi itu yang merasa kesal dengan kesabaran Malik bin Dinar, hingga suatu hari ia datang menemui Malik dan berkata: “Hai Malik, apakah yang membuatmu sabar sedemikian rupa terhadap gangguan-gangguan yang kuberikan kepadamu.”

Sambil tersenyum Malik menjawab: “Karena engkau tetanggaku, sedangkan junjungan kami, Baginda Muhammad Rasulullah SAW telah bersabda, bahwa Malaikat Jibril selalu datang dan tak putus-putusnya berwasiat kepada beliau tentang halnya berbaik-baik dengan tetangga, sampai-sampai beliau pernah berpikir bahwa tetangga itu berhak memperoleh warisan. Dan selaku umat beliau, tentu saja saya harus menunaikan apa yang telah beliau amanahkan.”

Mendengar itu si Yahudi terdiam, ia lalu meminta maaf kepada Malik bin Dinar dan langsung menyatakan dirinya masuk Islam. Dan dengan bimbingan Malik bin Dinar, si Yahudi pun menjadi seorang muslim yang baik dan ta’at. Wallahua’lam.

Copyright @ 2013 Kisah Sejarah Islam.