Jumat, 25 Juli 2014

Filled Under:

Kisah 2 Saudara Penyembah Api








Pada zaman Malik bin Dinar ada dua orang bersaudara yang beragama Majusi. Kakaknya telah menyembah api selama 73 tahun, sedangkan adiknya telah menyembah api selama 35 tahun. Lalu adiknya berkata kepada kakaknya.
Adik: “Mari kita mencoba api yang kita sembah-sembah, apakah ia menghormati kita atau membakar kita sebagaimana ia membakar kepada orang yang tidak mau menyembahnya. Jika ternyata api itu menghormati kita maka kita menyembahnya, dan jika tidak maka tidak usah kita sembah.”
Kakak: “Baiklah!” Lalu keduanya menyalakan api.
Adik: “Apakah engkau dulu yang meletakkan tanganmu atau saya?”
Kakak: “ Engkau saja yang mencoba meletakkannya.”
Lalu adiknya meletakkan tangannya di atas api, maka terbakarlah jari-jarinya dan iapun mengeluh seraya berkata “Aduuuh!” sambil melepaskan tangannya dari api, dan mengatakan “Hai api, aku telah menyembahmu selama 35 tahun, tetapi kamu masih menyakiti aku.” Kemudian ia berkata kepada kakaknya.
Adik: “ Kakak kemarilah, mulai sekarang aku akan menyembah Tuhan Allah Yang Maha Esa. Andaikata aku berbuat dosa dan meninggalkan perintah-Nya selama 500 tahun umpamanya, maka Dia tetap berkenan melewatkan siksaannya dari kita, dan mau mengampuni dosa kita karena keta’atan satu jam dan memohon ampun sekali saja.”
Kakak: “ Jika demikian, marilah kita pergi mencari orang yang mau menunjukkan jalan yang benar dan mengajarkan agama Islam kepada kita.”
Maka pendapat keduanya sepakat untuk pergi menjumpai Malik bin Dinar agar beliau menjelaskan agama Islam. Keduanya terus berangkat mendatangi Malik bin Dinar, kebetulan keduanya dapat menjumpai beliau di pertengahan kota Bashrah yang sedang duduk dikerumuni orang banyak, beliau sedang mengajar dan menasehati mereka. Setelah keduanya melihat Malik bin Dinar, maka kakaknya berkata kepada adiknya.
Kakak: “ Terus terang saja aku tidak akan masuk islam. Sebab umurku telah terlampau banyak untuk menyembah api. Jadi kalau aku masuk islam dan kembali kepada agama Islam dan agama Muhammad, maka keluargaku dan tetanggaku pasti akan menegurku. Sedangkan aku lebih mencintai api daripada teguran mereka.”
Adik: ‘Jangan engkau perbuat, sebab teguran mereka benar-benar akan sirna sedangkan api neraka itu selamanya tidak akan sirna.”
Ternyata kakaknya sudah tidak mau memperhatikan saran adiknya.
Adiknya lalu berkata kepada kakaknya : “Silakan engkau tetap dalam kelakuanmu, engkau memang anak orang celaka dan memang orang celaka dan kerusakan dunia akhirat.” Ternyata kakaknya pulang kembali dan tidak mau masuk islam. Akhirnya keduanya berpisah. Adiknya beserta anak-anak dan istrinya lalu datang di majelis orang banyak yang sedang memperhatikan nasehat Malik bin Dinar. Mereka ikut duduk menunggu selesainya Malik bin Dinar mengajar. Seusai beliau mengajar, lalu orang muda tadi berdiri di hadapan Malik bin Dinar sambil menceritakan keadaannya selama menyembah api dan meminta agar beliau memberikan petunjuk-petunjuk agama islam kepadanya beserta anak dan istrinya. Malik bin Dinar memberikan petunjuk-petunjuk agama islam kepadanya. Akhirnya mereka memeluk agama islam. Para manusia yang hadir di situ sama menangis semuanya karena merasa senang dan terharu. Ketika ia akan pulang maka Malik bin Dinar berkata: “Engkau tetap di sini dulu akan saya mintakan derma dari sahabat-sahabatku untuk mencukupi kebutuhanmu sekeluarga.” Maka ia menjawab: “ Aku tidak akan menjual agama dengan harta dunia.” Ia terus pergi ke tempat yang sepi. Kebetulan di situ ada rumah yang baru sekali dibangun, lalu ia tinggal di dalamnya. Pada pagi harinya istrinya berkata pada suaminya.: “Pergilah ke pasar dan carilah pekerjaan. Nanti jika sudah mendapatkan upah untuk membeli sesuatu yang akan kita makan.” Ia lalu pergi ke pasar tetapi tidak ada seorangpun yang memberikan buruhan dan upah kepadanya. Maka iapun berkata pada dirinya, kalau begini aku akan bekerja pada Allah Ta’ala. Ia lalu masuk masjid yang sudah tidak pernah dipergunakan berjamaah, ia terus shalat di dalamnya sampai malam. Kemudian ia pulang ke rumahnya dengan tangan kosong tidak membawa apa-apa. Istrinya bertanya: “ Apakah hari ini engkau tidak memperoleh apa-apa?” Ia menjawab: “Hai istri, hari ini aku bekerja pada seorang raja, tetapi dia belum memberikan sesuatu kepadaku, semoga besok padi dia akan memberi kepadaku.” Jadi semalam mereka kelaparan. Pagi harinya ia pergi lagi ke pasar. Tetapi juga tidak mendapat pekerjaan. Ia terus pergi ke masjid lagi dan melakukan shalat sampai malam karena Allah Ta’ala, kemudian ia pulang ke rumahnya juga dengan tangan kosong tidak membawa apa-apa. Istrinya bertanya kepadanya: “Apakah hari ini engkau juga tidak mendapatkan apa-apa?” Ia menjawab: “ Hari ini aku bekerja kepada seorang raja seperti yang aku kerjakan kemarin, semoga dia akan memberikan upah besuk pagi, yaitu hari jumat.” Jadi anak dan istrinya tetap kelaparan. Setelah pagi yaitu hari jumat ia pergi ke pasar lagi juga tidak memperoleh pekerjaan. Maka ia terus ke masjid itu, lalu shalat dua rakaat, kemudian ia mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa: “Wahai Tuhanku, junjunganku dan kekasihku! Engkau benar-benar telah memuliakan aku dengan agama islam dan memakaikan mahkota padaku dengan mahkota islam serta memberikan petunjuk kepadaku dengan mahkota petunjuk. Maka dengan kemuliaan agama yang engkau limpahkan kepadaku, dan demi kemuliaan hari yang penuh berkah lagi mulia dan yang agung pangkatnya di sisi-Mu yaitu hari jumat, aku memohon kepadaMu semoga Engkau berkenan melenyapkan kesibukan belanja keluargaku dari hatiku, dan semoga Engkau berkenan melimpahkan rizki kepadaku yang tidak tersangka-sangka datangnya. Demi Allah, sesungguhnya aku ini malu terhadap keluargaku dan tanggunganku (istri dan anak-anakku) dan aku khawatir terhadap berubahnya tingkah mereka itu karena baru saja memeluk islam.” Kemudian ia berdiri dan sibuk melakukan shalat dan ia shalat dua rakaat. Setelah tiba waktu pertengahan siang, seorang yang masih muda itu keluar untuk berjumatan, dimana anak-anaknya masih dalam keadaan sangat lapar. Setelah ia pergi, tiba-tiba rumahnya didatangai tamu seorang laki-laki seraya mengetuk pintu. Istrinya lalu keluar, ternyata yang mengetuk pintu itu adalah seorang pemuda yang bagus rupanya, tangannya menggenggam uang emas yang dibungkus dengan sapu tangan. Tamu itu lalu berkata pada wanita: Ambillah bungkusan ini dan katakan kepada suamimu bahwa ini adalah upah kerjanya selama dua hari. Dan hendaklah ia menambah pekerjaannya nanti upah juga akan saya tambah, terutama tambahan pekerjaan pada hari jumat ini. Karena sesungguhnya amal sedikit pada hari jumat ini menurut Raja Yang Maha Kuasa dianggap banyak. Wanita itu lalu mengambil bungkusannya, setelah dibuka ternyata berisi uang 1000 (seribu) dinar dan ia hanya mengambil satu dinar, lalu ia bawa kepada tukang real yang beragama Nasrani. Tukang real itu lalu menimbang uangnya, setiap satu mitsqal ternyata bobotnya bertambah dua mitsqal. Setelah ia melihat capnya, ternyata bukan dinar dunia. Jadi tukang real itu tahu bahwa uang dinar itu merupakan hadiah dari akhirat. Maka ia bertanya kepada wanita itu: “ Dari mana engkau mendapatkan dinar ini?” Lalu wanita tadi menceritakan semua ihwal suaminya mulai awal sampai akhir. Setelah ia mendengarkan keterangan wanita tadi, lalu ia berkata kepadanya: “Tunjukkanlah kepadaku tentang islam.” Setelah dijelaskan ia masuk islam dan memberikan uang sebesar 1000 (seribu) dirham kepada wanita seraya berkata: “ Uang 1000 (seribu) dirham ini engkau belanjakan unuk keluargamu, dan jika sudah habis beritahukanlah kepadaku.” Maka setelah lelaki muda suami wanita iu selesai shalat lalu ia pulang dengan tangan kosong, dan ia membuka sapu tangannya dipenuhi dengan debu sambil berkata dalam hatinya: “ kalau nanti istriku bertanya engkau membawa apa, akan kujawab membawa tepung.” Setelah ia sampai di rumahnya, ia melihat lambaran yang sudah disediakan dan berbau makanan. Ia lalu meletakkan sapu tangan didekat pintu agar istrinya tidak tahu. Kemudian ia berkata kepada istrinya tentang kejadian apa yang dilihat di rumah. Maka istrinya menceritakannya secara lengkap. Suaminya terus bersujud syukur kepada Allah Ta’ala. Istrinya bertanya: “Apa yang engkau bawa dalam sapu tangan ini?” Jawabnya: “Tidak perlu anda tanyakan kepadaku.” Istrinya lalu mengambil sapu tangan dan membukanya, maka tiba-tiba debu tadi telah berubah menjadi tepung dengan izin Allah Ta’ala. Maka lelaki muda itu terus bersujud syukur kepada Allah, dan terus tekun beribadah kepada Allah Ta’ala hingga mati.
Al Faqih berkata: Angkatlah kedua tanganmu ke langit dan berdo’alah dengan kemuliaan hari jumat:
Ighfirlanaa dhunuubanaa waksyif’annaa kurbatanaa
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan bukakanlah kesempitan kami.”
Orang muda itu ketika berdoa kepada Allah dan memohon syafa’at kepadaNya dengan hak hari jumat, maka hajat kebutuhannya dikabulkan dan diberi rizki oleh Allah dengan tidak tersangka-sngka datangnya. Maka demikian pula kami, apabila kami berdoa pada hari jumat semoga Allah memenuhi kebutuhan kami, karena Dialah Maha Belas Kasihan dan Penyayang dan Tuhan Yang Maha Derma.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 Kisah Sejarah Islam.